SUAMI BELI PROPERTI ATAS NAMA ORANG TUA, APAKAH HAL TERSEBUT MERUPAKAN HARTA BERSAMA?

SUAMI BELI PROPERTI ATAS NAMA ORANG TUA, APAKAH HAL TERSEBUT MERUPAKAN HARTA BERSAMA? saat ini permasalahan tersebut sangat banyak sekali terjadi. Banyaknya permasalahan tersebut tentu ada faktor-faktor yang mendorongnya. Bisa saja faktornya memang permintaan dari orang tua suami atau disebabkan karena kecerdikan seorang suami, agar ketika terjadinya perceraian nanti properti tersebut tidak bisa digugat oleh istrinya dengan alasan atas nama orang tuanya dan hal tersebut bukanlah harta bersama. Hal tersebut tentu sangat mendatangkan kerugian bagi seorang istri. Maka dari itu kami akan coba mengulas sedikit tentang SUAMI BELI PROPERTI ATAS NAMA ORANG TUA, APAKAH HAL TERSEBUT MERUPAKAN HARTA BERSAMA?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu kita terlebih dahulu memastikan apakah uang untuk pembelian properti tersebut uang milik pribadi suami yang dia dapatkan sebelum menikah. Jika benar uang tersebut di dapatkan sebelum menikah kemudian dia belikan properti maka uang tersebut atau properti tersebut merupakan harta bawaan milik suami. Dan sebaliknya jika uang tersebut didapatkan dari hasil usaha bersama dalam masa pernikahan kemudian si suami membelikannya properti untuk dan atas nama orang tuanya, maka hal tersebut merupakan harta bersama atau harta gono gini.

SUAMI BELI PROPERTI ATAS NAMA ORANG TUA, APAKAH HAL TERSEBUT MERUPAKAN HARTA BERSAMA
SUAMI BELI PROPERTI ATAS NAMA ORANG TUA, APAKAH HAL TERSEBUT MERUPAKAN HARTA BERSAMA

Harta bersama adalah  harta benda yang diperoleh selama pernikahan baik itu hasil kerja suami sendiri atau hasil usaha istri sendiri, atau hasil usaha bersama-sama suami istri, maka semua itu disebut dengan harta bersama dalam pernikahan. Untuk lebih jelasnya dalam Pasal 35 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh selama perkawinan berlangsung. Harta bersama ini juga disebut dengan harta gono gini, baik dari suami saja, atau dari sitri saja atau dari suami istri tersebut.

Selanjutnya jika uang pembelian properti tersebut merupakan uang yang didapatkan setelah pernikahan, maka properti tersebut merupakan harta bersama atau harta gono gini. Dalam hal terjadinya perceraian dalam rumah tangga tersebut si istri dapat mengajukan gugatan harta bersama atau harta gono gini ke Pengadilan yang dilengkapi dengan bukti-bukti surat yang menunjukkan uang pembelian properti tersebut benar-benar didapatkan dalam masa pernikahan. Lebih dari itu selain wajib menunjukan bukti-bukti surat, si istri juga wajib mengajukan saksi-saksi minimal sebanyak 2 (dua) orang yang menerangkan bahwa uang  pembelian properti benar-benar uang yang diperoleh dalam masa pernikahan mereka.

Demikianlah artikel ini, semoga bermanfaat. Jika Bapak/ibu butuh konsultasi hukum dan pendampingan hukum terkait permasalahan perceraian, pembagian harta gono gini atau harta bersama, itsbat nikah, izin poligami, wanprestasi, hak asuh anak atau hadanah, dan lain-lainnya. Bapak/Ibu bisa datang langsung ke kantor kami atau konsultasi via online di whatsapp: 0877-9262-2545. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *